Showing posts with label identity. Show all posts
Showing posts with label identity. Show all posts

Sunday, October 5, 2008

UNTUK SEBUAH NAMA






Waktu kecil dulu, saya sempet kesal dengan nama pemberian ortu saya. Menurut saya, nama saya jelek sekali. Tidak seperti nama-nama pada umumnya. Dengan mudahnya orang lain akan memanggil dengan apa yang mereka mau yang penting ada unsur P dan I. asli nick name saya Pipi, tapi banyak yang memanggil saya Pipit, pipin, pipet, pipul, Epi, Pia ada juga yang sengaja memanggil dengan nama Tipi dan Pilus (seperti makanan). Lama kelamaan, akhirnya panggilan saya yang banyak itu pun hilang tertelan bumi. Yang tetinggal hanya pipi untuk pangilan rumah dan Sofie untuk panggilan resmi dan nama panggung..halah.. hahaha…

Kembali lagi ke soal nama, yang menurut saya lain di banding saudara-saudara saya. Lha wong orang jawa kok ngga ada jawa-jawa nya. Saya sampai bertanya kenapa sih nama saya bukan : dewi atau sari. Menurut saya kedua nama itu indah dan cantik sekali. Waktu saya membaca majalah Bobo, saya terpesona pada peri baik hati si Juwita musuh si Sirik dan ingin ganti nama menjadi “Juwita”. Beberapa kali, ketika berkenalan misalnya di kolam renang, saya mengaku bernama Juwita.. hihihihi…

Hmm.. tapi kemudian saya bersyukur ketika melihat program acara lenong rumpie di RCTI awal tahun 90-an. Salah satu pemainnya Ade bimbi disitu berperan sebagai juwita, dan sering dipanggil “juwiiiiiii..”. Tahu sendirilah Ade Bimbi khan casingnya cowo bgt, berperawakan kurus, hitam legam dengan rambut kriting. Haduuuh… ilfil deh kalo saya punya nawa juwita… dan dipanggil cowo-cowo “Juwiiiiii…” hahahaha

Setelah dewasa, saya kian mengerti nama itu penting. Nama yang diberikan pasti memiliki arti yang baik. Nama juga harus cocok dengan orang yang menyandangnya. Jika tidak cocok, jangan heran kalau si anak jadi sakit-sakitan sehingga harus ganti nama dan mesti “selametan’” lagi. Selain itu, sengaja mapun tidak, nama juga mengandung harapan dan cita-cita orang tua terhadap anaknya. Selain itu, bagi yang percaya (termasuk saya tentunya) nama ternyata punya “sejarah” dan “peristiwa” tersendiri yang membawa pengaruh bagi penyandangnya di kehidupan serta pada nasib nya.

Kini saya amat bersyukur dan sangat berterimakasih pada ortu terutama bapak saya, karena telah memberi saya nama yang indah, tidak pasaran dan memiliki arti yang baik. Nama depan saya, sama dengan nama depan orang-orang beken alias seleb. Kalau waktu kecil, saya cuma tahu bintang film Sophia lorens, sekarang ini sudah lumayan banyak seleb dengan nama depan “Sophia”, dari Sophie Marceu, Sophia latjuba sampai Sophie Navita…yaa… itung-itung numpang beken deh.. hehehe…

Nama tengah saya lain lagi. Bapak saya mengambil dari salah satu nama ayat atau surat di kitab Suci Alqur’an yang artinya Petir. Beberapa orang India, banyak menggunakan nama ini sebagai nama mereka. What a beautiful combination name. Thanks bapak..!

Sekarang ini, jika ada yang mendengar nama saya, pasti mengernyitkan keningnya “orang mana sih?” hmmm… orang mana ngga pentinglah. Yang penting : ini lho saya!!


Saturday, September 6, 2008

BANTUL TERCINTA



Bantul menurut saya baru mulai ngetop sewaktu dilanda gempa di tahun 2006. Sebelum itu, mana ada yang kenal… (?) kalaupun ada yang tahu, pasti mereka mentertawakan. Saya ingat, waktu kuliah dulu ada bapak-bapak petugas admin kampus yang tanya “lahir di bantul? Dimana tuh? Kok nama daerahnya lucu sih.... ? bantululululululul….” Gitu katanya…. Hahaha… saya ikutan tertawa.

Lain lagi, komen teman satu training dulu waktu saya kerja di Banking Company Top negeri ini. “hah Bantul..? itu khan Desa miskin. Masuk list IDT – inpres desa tertinggal” sebelum saya jawab, peserta training lain menyahut “emang kenapa kalo miskin? Loe mau bantu? Loe betawi banyak tanah luas juga cuman dijualin bukan? Trus jatuh-jatuhnya banyak yang miskin juga…” waduuuh… ngga ikutan ah, kenapa jadi ribut sih?

Plat Mobil-Motor Yogyakarta yang dimulai dari abjad “AB” pun konon merupakan singkatan dari : Aaaaa…. Bantul…!!!! Hihihihi… ada-ada saja. Akhir-akhir ini saya juga banyak mendengar istilah lucu lain yaitu : GABAN (gadis Bantul) dan MACAN TUTUL (manis cantik turunan bantul) weeeeh… saya doooonk? Hahahahaha…. Huuushhh..!!

Apapun komentar orang, saya tetap selalu kangen sama Bantul dan kota Yogya-nya. Biarpun sudah pernah lihat kincir angin dan bunga Tulip di Amsteram, saya tetap kangen sama sawah dan kali kecil bening depan rumah bude. Biarpun pernah kekenyangan makan buah ceri di Montpelier, saya tetap terkenang buah Murbei dan buah Talok di pekarangan rumah Mbah Adi. Biarpun Sudah pernah lihat menara Eifel di Paris dan Manekin Pis di Brussel, saya tetap kangen melewati gapura Pojok Beteng Wetan dan Kulon. Biarpun saya pernah menikmati pagi yang sejuk di laut Mediterania, saya tetap suka pantai Parang Tritis. Biarpun saya pernah melihat pertunjukan Flamenco di Barcelona, saya tetap suka tarian-tarian jawa di panggung Balaidesa serta Jatilan dengan “gendruwo”nya serta ketoprak yang ada Petruk, Gareng Bagong dan Semar.

Ngga tahu kenapa, saya selalu kangen sama panas dan debunya Bantul, kangen sama pasar becek dan bau jajanannya, kangen mbok-mbok yang jalan bawa tenggok di pinggang pake kain batik trus bicara-bicara medhok Jawa. Saya juga kangen mendengar sayup-sayup music gamelan langsung dari klenengan aslinya.

Tuuuh betul khan?
Saya memang orang Bantul asli.
Terimakasih ya dear Allah menjadikan saya MACAN TUTUL.. gggrrrhhh… hehehe…